Kalau kita mentadabburi ayat-ayat Al-Qura’an terkait bencana
alam yang menimpa berbagai umat sebelum kita, sejak zaman nabi Nuh, Ibrahim,
Luth, Syu’aib, Sholeh, Musa dan sebagainya, kita akan menemukan dua cara
pandang manusia terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas bumi ini.
Pertama, *cara pandang orang-orang kafir dan ingkar
pada Allah dan Rasul-Nya*. Cara pandang orang-orang yang sombong pada Allah dan
tidak mengenal Tuhan Pencipta alam yang sebenarnya. Cara pandang orang-orang
sekular yang tidak mampu melihat kaitan antara Tuhan dengan hamba, antara agama
dengan kehidupan dan antara dunia dan akhirat.
Manusia semacam ini adalah manusia yang tidak pernah mau dan
tidak mampu menjadikan berbagai peristiwa alam tersebut sebagai pelajaran dan
sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Mereka bukannya mengoreksi diri
dan kembali kepada Allah, melaikan semakin bertambah kesombongan dan
pembangkangan mereka pada Allah dan Rasul-Nya. Hal seperti ini dijelaskan Allah
dalam Al-Qur’an, dii antaranya dalam surat Ghafir / 40 : 21 – 27 :
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا
كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ
قُوَّةً وَآَثَارًا فِي الْأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ
لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ (21) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ
بِالْبَيِّنَاتِ فَكَفَرُوا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ
(22) وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآَيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ (23) إِلَى فِرْعَوْنَ
وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ (24) فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ
مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا اقْتُلُوا أَبْنَاءَ الَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ وَاسْتَحْيُوا
نِسَاءَهُمْ وَمَا كَيْدُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (25) وَقَالَ فِرْعَوْنُ
ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ
أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ (26) وَقَالَ مُوسَى إِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي
وَرَبِّكُمْ مِنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ (27)
"Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka
bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka.
Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak)
bekas-bekas mereka di muka bumi maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa
mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah" (21)
Yang demikian itu adalah karena telah datang kepada mereka
rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata lalu mereka kafir;
maka Allah mengazab mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Keras
hukuman-Nya (22)
Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa
ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,(23) kepada Fir’aun, Haman dan Qarun;
maka mereka berkata: "(Ia) adalah seorang ahli sihir yang
pendusta."(24)
Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran
dari sisi Kami mereka berkata: "Bunuhlah anak-anak orang-orang yang
beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka." Dan
tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka) (25)
Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya):
"Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya,
karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan
kerusakan di muka bumi."(26) Dan Musa berkata: "Sesungguhnya aku
berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri
yang tidak beriman kepada hari berhisab."(27) (Q.S. Ghafir : 21 -27)
Kedua,*cara pandang orang-orang beriman kepada
Allah dan para Rasulnya*. Apa saja peristiwa alam yang terjadi mereka
kembalikan semuanya kepada kehendak dan kekusaan Allah, mereka hadapi dengan
hati yang penuh iman, tawakakal, sabar dan tabah serta mereka lihat sebagai
sebuah ujian dan musibah untuk menguji kualitas keimanan dan kesabaran mereka,
atau bisa juga sebagai teguran Allah atas kelalaian dan dosa yang mereka
lakukan.
Selain itu, semua peristiwa yang menimpa manusai mereka
jadikan sebagai momentum terbaik untuk mengoreksi diri (taubat) agar lebih
dekat kepada Allah dan sistem Allah dan Rasul-Nya. Pada saat yang sama
merekapun meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.
Mereka adalah orang-orang yang sukses dalam beriteraski
dengan alam dan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan semasa hidup di
dunia dan juga di akhirat kelak. Allah menjelasakannya dalam Al-Qur’an surat
Al-Baqoroh ayat 155 – 157 :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ
وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
(155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ
رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ
هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(155) (yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi
wa innaa ilaihi raaji’uun (seusngguhnya kami milik Allah dan sesunnguhnya kami
sedang menuju kembali kepada-Nya) (156) Mereka itulah yang mendapat keberkatan
yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang
mendapat petunjuk. (157) (Q.S. Al-Baqoroh / 2 : 155 -157)
*Penyebab Terjadinya Musibah*
Al-Qur’an dengan tegas menjelasakan bawa sebab utama
terjadinya semua peristiwa di atas bumi ini, apakah gempa bumi, banjir,
kekeringan, tsunami, penyakit tha’un (mewabah) dan sebagainya disebabkan ulah
manusia itu sendiri, baik yang terkait dengan*pelanggaran sisitem Allah yang ada di laut dan di darat*, maupun
yang terkait dengan *sistem nilai dan keimanan yang telah Allah tetapkan bagi
hambanya*.
Semua pelanggaran tersebut (pelanggaran sunnatullah di alam
semesta dan pelanggaran syariat Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan
Rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad Saw), akan mengakibatkan kemurkaan Allah.
Kemurkaan Allah tersebut direalisasikan dengan berbagai peristiwa seperti gempa
bumi, tsunami dan seterusnya.
Semakin besar pelanggaran manusia atas sistem dan syariat
Allah, semakin besar pula peristiwa alam yang Allah timpakan pada mereka. Allah
menjelaskan dalam Al-Qur’an :
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ
مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ
مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ
وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (40)
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan
dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu
kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan
di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada
yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka,
akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S. Al-Ankabut / 29
: 40)
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ
يَرْجِعُونَ (41)
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar).(Q.S. Ar-Rum / 30 : 41)
Melalui ayat-ayat Al-Qur’an tersebut jelaslah bagi kita
bahwa :
Semua peristiwa dan bencana yang kita saksikan di atas bumi
dan alam semesta ini tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya,
melaikan sesuai kehendak dan ketentuan Tuhan Penciptanya, yakni Allah Ta’ala.
Berbagai persitiwa dan bencana itu disebabkan kedurahakaan
dan kesombongan manusia terhadap Allah dan syari’at Allah serta berbagai
dosa-dosa yang mereka lakukan. Lalu Allah menurunkan berbagai azab atas mereka.
Orang-orang kafir, sombong dan ingkar pada Allah dan
Rasul-Nya melihat berbagai peristiwa tersebut murni hanya sebagai peristiwa
alam yang terlepas dari kehendak dan sekenario Allah. Mereka tidak dapat melihatnya
sebagai sebuah azab, teguran atau cobaan. Melainkan hanya menambah kesombongan
dan kekufuran kepada Allah. Sikap yang mereka kembangkan juga seakan melawan
kehendak Allah. Namun sayang, sepanjang perjalanan umat manusia, belum ada
satupun manusia yang mampu mengalahkan dan melawan kehendak Allah, kendati
Fir’au yang begitu hebat memiliki semuak kekuatan saat berkuasa, namun
tenggelam juga di laut merah dan bangkai dapat kita saksikan sekarang di sebuah
museum di Mesir. Demiakian juga dengan Negara-negara maju teknologi hari ini
seperti Jepang, Eropa dan Amerika. Belum pernah mereka mampu menahan gempa
bumi, tsunami dan berbagai bencana yang Allah turunkan di negeri mereka. Semuanya
lemah dan tak berdaya di hapadan kehendak Allah.
Sebaliknya, orang-orang beriman akan melihat semua peristiwa
yang terjadi merupakan ujian dan teguran dari Allah. Mereka akan segera kembali
dan bertaubat pada Allah. Semakin taat pada aturan Allah, baik yang terkait
dengan sunnatullah maupun syari’at Allah.
Sistem Allah terkait dengan imbalan (pahala) dan hukuman
(punishment) bukan hanya terjadi di akhirat, melainkan sudah Allah terapkan
sejak kita hidup di dunia. Setiap kebaikan yang dibangun di atas dasar iman
pada Allah dan ketaatan pada-Nya dan Rasul-Nya akan berakibat keberkahan hidup
di dunia dan keselamatan di akhirat. Sebaliknya, setiap pelanggaran sistem
Allah yang terkait dengan keimana, syari’ah, akhlak, sunnatullah dan
sebabgainya akan berakibat kepada tidakan Allah melalui berbagai bencana yang Allah timpakan kepada manusia.
Mari kita renungkan firman Allah berikut ini :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا
وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ
كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (96) أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى
أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (97) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى
أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (98) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ
فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (99)
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan
bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
bumi, tetapi mereka menolak (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya.(96) Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman
dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang
tidur?(97) Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan
Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang
bermain?(98) Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak
terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang
merugi.(99) (Q.S. Al-A’raf / 7 : 96 – 99)
Komentar
Posting Komentar